SATHIO GROUP Australian Open 2025 menjadi salah satu titik penting di kalender BWF musim ini. Di Sydney, dua cerita besar lahir sekaligus: dominasi berkelanjutan An Se Young di tunggal putri dan terobosan besar pasangan muda Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di ganda putra. Untuk penggemar bulutangkis, hasil Australian Open kali ini bukan sekadar angka di hasil pertandingan, tetapi juga sinyal kuat menjelang jadwal turnamen BWF berikutnya pada sisa musim 2025 dan menuju 2026.
Di tunggal putri, An Se Young kembali menunjukkan mengapa ia pantas menyandang status pemain nomor satu dunia. Unggulan utama asal Korea Selatan itu menuntaskan misi dengan sangat efisien pada partai final melawan unggulan kedua, Putri Kusuma Wardani. Dalam waktu hanya 44 menit, An menang dua gim langsung 21-16, 21-14. Permainan defensif solid yang dikombinasikan dengan serangan tajam dari segala sudut lapangan membuat Putri kesulitan mengembangkan pola.
Gelar di Australian Open ini adalah titel ke-10 An Se Young pada musim 2025 di rangkaian HSBC BWF World Tour. Ia kini tinggal membutuhkan satu gelar lagi untuk menyamai rekor legendaris Kento Momota yang pada 2019 mencatat 11 gelar dalam satu musim. Dalam wawancaranya, An menyebut pencapaian ini sangat spesial, tetapi ia memilih tetap fokus dari turnamen ke turnamen, langkah demi langkah, tanpa terlalu terbebani rekor. Yang ia pikirkan hanyalah bermain sebaik mungkin di setiap laga.
Atmosfer di Australian Open 2025 juga mendapat pujian dari sang juara. An menegaskan bahwa dukungan penggemar dan energi dari tribun membuatnya semakin termotivasi. Bagi para fans, inilah kesempatan langka menyaksikan dominasi seorang pemain tunggal putri di level tertinggi, sebagaimana dulu publik menyaksikan era Momota di tunggal putra. Jika ia mampu melanjutkan tren ini di turnamen-turnamen besar lain seperti China Open, Japan Open atau bahkan World Tour Finals, musim 2025 bisa tercatat sebagai salah satu musim terbaik dalam sejarah BWF.
Cerita sensasional lainnya datang dari ganda putra. Pasangan muda Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, mencetak hasil terbesar dalam karier mereka dengan menjadi juara Australian Open 2025. Menghadapi senior sekaligus sesama kompatriot, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, mereka tampil berani sejak awal. Skor akhir 22-20, 10-21, 21-18 menggambarkan betapa ketatnya laga all-Indonesian final ini.
Setelah merebut gim pertama yang menegangkan dan kehilangan fokus di gim kedua, Indra/Joaquin mampu bangkit di gim penentuan. Komunikasi yang lebih intens, keberanian mengambil risiko di momen krusial, serta pemahaman pola permainan lawan—karena sering berlatih bersama—menjadi kunci kemenangan mereka. Kemenangan ini sekaligus menjadi gelar perdana mereka di HSBC BWF World Tour, hanya satu minggu setelah menjadi runner-up di Korea Masters. Secara keseluruhan, mereka bahkan sudah mencapai delapan final dalam setahun dan empat final beruntun, sebuah statistik yang mencerminkan konsistensi dan potensi jangka panjang.
Indra menyebut bahwa mereka sudah membuktikan bisa bersaing di level atas, tetapi menegaskan bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai. Gelar di Australian Open ini baru langkah pertama, dan mereka tidak ingin cepat puas. Bagi bulutangkis Indonesia, kehadiran pasangan baru di jajaran elite ganda putra menjadi kabar baik di tengah persaingan ketat dengan pasangan-pasangan kuat dari China, Malaysia, Denmark, maupun Jepang.
Selain dua cerita utama tersebut, Australian Open 2025 juga menghadirkan beberapa hasil menarik di nomor lain. Lakshya Sen akhirnya menemukan kembali ritme kemenangannya dengan merebut gelar pertama pada 2025 setelah mengalahkan Yushi Tanaka 21-15, 21-11. Di ganda putri, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum meraih gelar terbesar dalam karier mereka setelah menang dramatis atas rekan senegara Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari. Laga tiga gim yang berakhir 18-21, 21-19, 23-21 itu menjadi salah satu pertandingan paling menegangkan di hari final.
Di ganda campuran, pasangan Malaysia Chen Tang Jie/Toh Ee Wei kembali ke podium teratas dengan merebut gelar pertama mereka sejak menjadi juara dunia. Mereka menahan perlawanan Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu dengan kemenangan 21-16, 21-11. Hasil ini mengukuhkan posisi mereka sebagai salah satu pasangan yang patut diperhitungkan di setiap turnamen level Super 500 ke atas.
Secara keseluruhan, SATHIO GROUP Australian Open 2025 menegaskan dua hal penting di jadwal BWF World Tour: dominasi An Se Young yang terus berlanjut dan munculnya generasi baru, termasuk Indra/Joaquin, yang siap menantang pemain-pemain papan atas. Bagi penggemar bulutangkis, hasil dan performa di Australian Open ini akan sangat menarik untuk dipantau pengaruhnya terhadap ranking BWF, peta persaingan di turnamen-turnamen berikutnya, dan peluang para pemain jelang musim 2026.


