Kebangkitan Lakshya Sen: Dari Luka Olimpiade ke Gelar Pembuka Jalan Menuju Musim 2026

Lakshya Sen menjadi sorotan nasional India setelah performanya yang luar biasa di Olimpiade Paris 2024. Ia sudah memiliki gelar BWF dan medali besar, tetapi publik India benar-benar mengenalnya setelah tampil heroik di Paris, meski akhirnya finis di posisi keempat yang menyakitkan.

Dua kekalahan tipis itu meninggalkan luka mental yang mendalam. Komentar tegas dari mentornya sejak kecil, Prakash Padukone, menambah tekanan: ia harus “bekerja lebih keras dan mengambil tanggung jawab”. Sen memasuki musim baru dengan beban mental berat, dan hasil buruk di awal 2025 hanya memperburuk semuanya.

Bagi pemain yang sejak usia 10 tahun hidup di Akademi Prakash Padukone, kehilangan rasa senang pada bulu tangkis menjadi pukulan terbesar.


Kehilangan Motivasi dan Masa Sulit Setelah Paris

“Setelah Paris, banyak hal yang sulit saya hadapi. Gugur babak pertama berkali-kali. Secara mental, saya harus melepas banyak pikiran negatif dan mencoba menikmati bulu tangkis lagi,” katanya.

Cedera membuatnya semakin jauh dari ritme bermain. Ketika akhirnya berlatih kembali, motivasi tak sepenuhnya pulih.

“Saya ikut beberapa turnamen, tetapi kalau saya lihat ke belakang, saya sebenarnya tidak berada di sana 100%.”

Ia berada di titik ketika bulu tangkis — sesuatu yang dulu menjadi pusat hidupnya — berubah menjadi beban.


Perubahan Besar: Pendekatan Mental Baru

Solusi datang dari arah yang tak terduga: pelatih mental asal Israel, Mon Brokman, yang sebelumnya bekerja dengan HS Prannoy dan tim IPL Rajasthan Royals. Lakshya mulai bekerja dengannya sekitar April–Mei 2025.

Misinya sederhana tetapi fundamental: membuat Lakshya kembali menikmati bulu tangkis.

Brokman memperkenalkan prinsip “one match at a time”, menghapus tekanan pada hasil dan fokus pada proses. Ini bukan hal mudah, terutama ketika Sen sedang berada dalam rentetan kekalahan dan gangguan fisik selama hampir tiga bulan.

Namun perlahan, mindset-nya bergeser.


Melepas Tekanan dan Timeline di Kepala

Sen menyadari bahwa desakan untuk segera bangkit justru membuatnya semakin terpuruk. Ia terjebak dalam timeline internal: harus cepat kembali ke performa puncak, harus segera menang, harus segera membuktikan diri.

Pada akhirnya, ia memutuskan melepaskan semuanya.

“Kalau butuh 10 turnamen atau 20 turnamen lagi, saya siap. Saya tidak mau terburu-buru.”

Keputusan inilah yang mengubah arah kariernya.

Bersamaan dengan perbaikan mental, ia bekerja dengan pelatih Korea Selatan Yoo Yong-Sung untuk menambah variasi pukulan. Ia juga menjalani program fisik intensif di Red Bull Athlete Performance Centre di Austria. Secara teknis dan fisik, ia bergerak ke arah yang tepat — mental adalah bagian terakhir yang harus dikunci.


Trofi Australian Open: Simbol Transformasi

Di Australia, Lakshya menunjukkan versi terbaik dari dirinya: lebih matang, lebih bervariasi, lebih tenang. Selebrasinya — menutup telinga dari kebisingan — menjadi metafora sempurna dari perjalanannya sepanjang 2025.

“Ketika saya tidak bermain baik, banyak keraguan dan banyak opini. Saya menghargainya, tapi saya harus menutup semuanya dan percaya pada diri sendiri.”

Ia mengingatkan dirinya bahwa proses yang ia jalani sudah benar, meski hasil belum terlihat. Dan pada turnamen terakhir musim 2025, proses itu membawanya pada gelar yang sangat berarti.

Setelah semifinal panjang melawan lawan yang pernah ia kalahkan di Olimpiade dan final dominan yang menunjukkan peningkatan teknis signifikan, Lakshya akhirnya mendapatkan momen pembuktian yang ia cari.


Menuju 2026: Potensi Level Baru

Bakat Lakshya Sen tidak pernah diragukan. Yang diuji selama ini adalah ketangguhan mentalnya — dan kini ia akhirnya menyusul kematangan teknisnya.

Jika momentum ini dibawa ke blok latihan dan awal musim 2026, Sen bisa membuka level baru dalam kariernya.

Dengan Asian Games di depan mata, 2026 berpotensi menjadi tahun terbaiknya — tahun ketika ia tidak hanya menemukan kembali dirinya, tetapi juga menjadi ancaman nyata di panggung dunia.

Postingan Terkait